Cara Pemerintah Tingkatkan Kualitas Vokasi hingga 2025


22 December 2017 oleh Administrator

Gambar: Dok. Cozer.id

Buku kebijakan pengembangan vokasi 2017 -  2025 yang disusun oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian ini bertujuan memproyeksi lapangan kerja yang akan datang, penyiapan tenaga kerja yang dibutuhkan, menghadapi tantangan bonus demografi yang akan menjadi ancaman perekonomian, serta kebijakan kebijakan yang perlu diambil atau dibuat oleh kementerian terkait.

Kegiatan ini dilaksanakan Kamis, 21 desember 2017 di Hotel Borobudur dan dihadiri oleh Mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan NasionalArmida Salsiah ; Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri; Menteri Agraria, pejabat - pejabat eselon II serta pemangku kepentingan dalam vokasi. Buku ini diharapkan bisa menjadi acuan bagaimana pemangku kepentingan mengimplementasikan dapat bersinergi secara tepat.

Laporan kegiatan acara dibacakan oleh Rudy Salahuddin selaku Deputi VI Deputi  Kemenkoekuin. Pembicaraan fokus kepada permasalahan dan pelatihan vokasi sebagai isu penting link & match kebutuhan dan keterbatasan alat dan prasarana bahkan dua sampai tiga generasi kebelakang.

Negara yang punya strategi dan fokus ekonomi yang jelas, akan lebih berhasil  dibanding yang tidak punya fokus pembangunannya, ujar Darmin Nasution Menteri Koordinator Perekonomian. Menurutnya, ada sektor sektor utama yang bisa menjadi unggulan dan perlu perhatian khusus, yaitu :

Pertama, Agrobisnis terutama karet, kelapa, coklat, sawit, kopi dan teh.

Kedua, Pariwisata, makanan dan minuman berpotensi menyerap banyak tenaga kerja karena akan berkembang sangat luas, seperti di Jepang, industri pariwisata berkembang sangat cepat. Hotel hotel di sana tidak dapat menampung turis yang berdatangan kemudian banyak rumah rumah menjadi homestay yang tentunya menbutuhkan pelayanan dasar membuat sarapan dan lainya, ujarnya.

Ketiga, Healthcare. Bertambahnya populasi dan pertumbuhan ekonomi kelas menengah berpengaruh kepada meningkatnya kebutuhan fasilitas kesehatan dan kecantikan seperti perawatan tubuh, dan kulit. Maka bonus demografi yang akan dihadapi bisa menjadi sumber tenaga kerja yang tinggi.

Keempat, E-commerce. Meningkatnya penetrasi internet dan mobile memberikan potensi indonesia untuk perdagangan global sekaligus melahirkan karakter pekerjaan yang baru.

Kelima, Tenaga Kerja Ekspor mengubah orientasi ekspor tenaga kerja Indonesia yang mayoritas TKI menjadi tenaga kerja profesional.

Sektor - sektor industri di atas memerlukan tenaga eks pendidikan vokasional dalam jumlah besar. Sementara, saat ini jumlah tenaga kerja yang dihasilkan dari 144 kompetensi yang ada di Indonesia berasal dari Teknik Komputer Jaringan, Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Teknik Sepada Motor (Otomotif), dan Permesinan. 5 jurusan ini 54% lebih dari total jumlah murid SMK di Indonesia

Kurangnya dana dan tenaga pengajar yang berkompetensi sesuai membuat pembangunan vokasi hanya fokus pada kompetensi yang mudah diajarkan dan minat murid yang dirasa tinggi.hal ini menyebabkan sektor industri unggulan pemerintah justru kekurangan tempat untuk mengasah tenaga kerja yang siap pakai.

Selain itu, karena yang diajarkan hanya yang bersifat general saja, terdapat fenomena balai - balai pelatihan yang diisi dengan lulusan SMK. Alasannya adalah karena setelah bekerja mereka diperintahkan oleh perusahaan untuk mendalami bidang keahliannya agar terhindar dari stigma lulusan vokasi yang tahunya ada banyak tapi sedikit sedikit."

Memperhatikan kondisi itu, dapat diramalkan bahwa jika sekolah - sekolah  vokasi tidak segera direvitalisasi dan disinkronkan dengan kebutuhan sektor unggulan yang ditetapkan, maka sektor - sektor unggulan itu akan sulit mendapatkan tenaga kerja yangg kompetensinya sesuai kebutuhan.

"Hanya dua hal yang penting, kita mau seluruh warga Indonesia mendapatkan hak yang sama dalam pelatihan yang berkualitas. Kedua, adanya kebijakan sosial sebagai bantalan yang mendukung hal itu, papar Hanif Dhakiri selaku Menteri Ketenagakerjaan.

Di sisi lain, CEO Triputra Group Arif P. Rachmat mengatakan bahwa pengembangan tenaga kerja bisa difokuskan pada sektor-sektor penyumbang devisa terbesar. Perkebunan, sawit,  karet, kayu, tetap (dikembangkan). Kemudian, pariwisata dan TKI itu juga besar. Manufacturing (pengolahan), pakaian, sepatu, dan elektronik itu juga besar. Itu yang harus kita dorong terus, ujarnya.

Satu rangkuman besar kalimat dari beberapa narasumber tentang vokasi adalah perlunya sinergi yang berani dari berbagai pihak dalam satu platform terintegrasi antara sekolah, kompentensi dan dunia industri. (Yudi)